Kasus penyakit ankylosing spondylitis atau bamboo spine kembali ditemui di Kecamatan Miri, Sragen. Kondisinya lebih parah daripada Sulami yang dijuluki manusia kayu asal Kedawung.
---
MANUSIA kayu kedua itu adalah Rodiyah, 37, asal Dusun Watubuncu, Desa Jeruk, Kecamatan Miri. Dia merasakan gejala awal penyakitnya pada 2006. Kondisinya bertambah parah setiap tahun. Kini, semua persendiannya, termasuk jari-jari tangan dan pergelangan kaki, tak bisa digerakkan.
Berita Terkait
Kisah Dua Manusia Kayu yang Dirawat di Satu Bangsal RSUD Moewardi
Anak bungsu di antara tujuh bersaudara tersebut mengaku sudah lama menderita penyakit itu. "Saya sudah tak bisa apa-apa (bergerak, Red)," ujarnya, lirih, karena gerak mulutnya terbatas. Selama ini, dia diurus ibunya, Siti Natun, yang berusia lebih dari 80 tahun.
Bidan Desa Jeruk Subiyati mengakui, kondisi Rodiyah terus memburuk. Petugas dari Puskesmas Miri rutin mengunjungi Rodiyah untuk memeriksa kesehatannya. Selama ini, gerak Rodiyah sangat terbatas, bahkan tak dapat bergerak sama sekali. "Kegiatannya di rumah hanya dilakukan di ranjang, mulai makan sampai buang air. Dia sudah tidak bisa bergerak. Namun, untuk makan dan minum, masih normal," terang Subiyati.
Untuk berbicara, Rodiyah masih bisa. Hanya, gerak pada mulutnya sangat terbatas. Dia tak bisa bicara lantang seperti orang pada umumnya. Demikian pula cara makannya, sangat terbatas.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sragen dr Hargiyanto menyampaikan, pihaknya sudah menerima laporan terkait kondisi Rodiyah. Bersama Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati, pihaknya menengok Rodiyah. Menurut Hargiyanto, itu merupakan penyakit genetik. "Kondisinya saat ini bisa dikatakan lebih parah ketimbang yang Kedawung karena lebih lama. Semua sendinya juga sudah kaku. Senin kami rujuk ke RSUD dr Moewardi, Solo," imbuhnya.
Hargiyanto menyampaikan, Pemkab Sragen telah berkoordinasi dengan RSUD dr Moewardi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak mengabaikan warga Sragen yang membutuhkan pertolongan. (din/bun/c18/ami)
---
MANUSIA kayu kedua itu adalah Rodiyah, 37, asal Dusun Watubuncu, Desa Jeruk, Kecamatan Miri. Dia merasakan gejala awal penyakitnya pada 2006. Kondisinya bertambah parah setiap tahun. Kini, semua persendiannya, termasuk jari-jari tangan dan pergelangan kaki, tak bisa digerakkan.
Berita Terkait
Kisah Dua Manusia Kayu yang Dirawat di Satu Bangsal RSUD Moewardi
Anak bungsu di antara tujuh bersaudara tersebut mengaku sudah lama menderita penyakit itu. "Saya sudah tak bisa apa-apa (bergerak, Red)," ujarnya, lirih, karena gerak mulutnya terbatas. Selama ini, dia diurus ibunya, Siti Natun, yang berusia lebih dari 80 tahun.
Bidan Desa Jeruk Subiyati mengakui, kondisi Rodiyah terus memburuk. Petugas dari Puskesmas Miri rutin mengunjungi Rodiyah untuk memeriksa kesehatannya. Selama ini, gerak Rodiyah sangat terbatas, bahkan tak dapat bergerak sama sekali. "Kegiatannya di rumah hanya dilakukan di ranjang, mulai makan sampai buang air. Dia sudah tidak bisa bergerak. Namun, untuk makan dan minum, masih normal," terang Subiyati.
Untuk berbicara, Rodiyah masih bisa. Hanya, gerak pada mulutnya sangat terbatas. Dia tak bisa bicara lantang seperti orang pada umumnya. Demikian pula cara makannya, sangat terbatas.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sragen dr Hargiyanto menyampaikan, pihaknya sudah menerima laporan terkait kondisi Rodiyah. Bersama Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati, pihaknya menengok Rodiyah. Menurut Hargiyanto, itu merupakan penyakit genetik. "Kondisinya saat ini bisa dikatakan lebih parah ketimbang yang Kedawung karena lebih lama. Semua sendinya juga sudah kaku. Senin kami rujuk ke RSUD dr Moewardi, Solo," imbuhnya.
Hargiyanto menyampaikan, Pemkab Sragen telah berkoordinasi dengan RSUD dr Moewardi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak mengabaikan warga Sragen yang membutuhkan pertolongan. (din/bun/c18/ami)
sumber: jawapos.com

0 comments:
Post a Comment