Pesiar, Waktu ’’Me Time’’ Taruna-Taruni AAL, Dapat Hak Istimewa Sesuai Nilai

Pesiar, Waktu ’’Me Time’’ Taruna-Taruni AAL, Dapat Hak Istimewa Sesuai Nilai

Surabaya punya Akademi Angkatan Laut (AAL). Sekolah yang mencetak perwira TNI-AL tersebut terletak di Krembangan, Surabaya Utara. Banyak cerita tentang kegiatan taruna dan taruni yang belajar di sana.

PERNAH melihat sekelompok anak muda berseragam lengkap di pusat perbelanjaan atau tempat umum? Mereka selalu tampak rapi dengan pakaian yang dikenakan. Ke mana-mana selalu bergerombol. Dengan penampilan yang berbadan tegap itu, mereka kerap menjadi pusat perhatian. Tampak keren dan gagah. Setuju, tidak?! Ehem... Anda yang pernah dan sedang naksir taruna atau taruni pasti setuju. Hehehe.

Ya, begitulah kalau taruna dan taruni AAL sedang pesiar. Pesiar bukan berarti berlayar mengarungi lautan dengan menunggang kapal. Itu adalah istilah ’’me time’’ untuk mereka ketika belajar di AAL. Ada waktu berlibur di akhir pekan. Mereka boleh menggunakan waktu berlibur itu untuk jalan-jalan keliling Surabaya.
Did You Know

Did You Know (Ahmad Khusaini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Meski begitu, tetap ada peraturan yang harus dipatuhi selama waktu pesiar. Salah satunya berseragam lengkap dengan atributnya serta membawa tas jinjing. Mereka tidak bisa main-main terkait dengan hal tersebut. Semua kelengkapan diperiksa dalam apel sebelum dan sesudah pesiar. ’’Kalau nggak lengkap atributnya, ada sanksinya sendiri. Bisa-bisa mereka tidak boleh pesiar lagi,’’ terang Gubernur AAL Surabaya Laksamana Pertama TNI Wuspo Lukito SE MM.

Dibedakan berdasar waktu, pesiar dibagi menjadi dua. Saat weekend (Sabtu-Minggu) dan pesiar saat kapal bersandar di tengah-tengah jadwal mereka berlayar ke luar kota. Para taruna-taruni mengikuti mata kuliah di AAL mulai Senin hingga Jumat. Lalu, Sabtu dan Minggu mereka memiliki waktu pesiar. Sabtu pada pukul 16.00–22.00 dan Minggu pukul 10.00–21.30.

Meski begitu, setiap taruna-taruni memiliki jam pesiar yang berbeda-beda. Hal tersebut bergantung dari rata-rata nilai yang mereka peroleh selama sepekan. ’’Ini dapat menjadi motivasi mereka juga,’’ ujarnya. Khusus murid yang mendapat nilai D, mereka harus menerima ’’nasib’’ pesiar di dalam kawasan AAL saja. Tidak diperbolehkan keluar saat akhir pekan. ’’Mereka pastinya diberi treatment khusus. Nilainya harus dapat menyusul teman-teman lainnya,’’ lanjut Wuspo.

Nah, yang berhasil mendapat nilai A boleh berbangga hati. Jerih payah mereka dihargai dengan mendapat waktu pesiar lebih banyak. Mereka bisa menginap di luar AAL pada Sabtu malam. Mereka dapat kembali ke mes pada Minggu. Untuk nilai B, mereka tidak boleh menginap di luar dan harus kembali ke mes pada jam yang telah ditentukan. ’’Kalau C, mereka hanya boleh pesiar sebulan sekali,’’ ungkap pria kelahiran Surabaya tersebut.

Itulah yang dimaksud dengan sebuah motivasi. Mereka yang belajar tekun berhak mendapat hadiah berupa pesiar. Saat pesiar pun, taruna-taruni mendapat uang saku setiap sebulan sekali.

Wuspo melanjutkan, berseragam lengkap saat pesiar memang sudah menjadi peraturan yang kukuh. Sebagai taruna-taruni, mereka harus menunjukkan identitas. Mereka tidak diperbolehkan naik angkutan umum seperti bemo dan becak. Para taruna-taruni harus menggunakan taksi atau naik bus AAL. ’’Tidak boleh satu orang sendiri. Mereka harus bepergian berkelompok. Minimal dua orang,’’ terang bapak dua anak itu. Peraturan tersebut memang digunakan sebagai pengamanan AAL kepada siswanya.

Selain weekend, pesiar dapat dilakukan saat berlayar. Ketika kapal bersandar di pelabuhan kota tujuan, mereka diberi waktu untuk ’’jalan-jalan’’. Tapi tetap, ya, peraturan harus dipegang teguh dan ditaati. Baik berlayar di dalam negeri maupun di luar negeri.

Pelayaran menjadi agenda wajib setiap tingkatan taruna-taruni. Khusus tingkat III, agendanya belayar ke luar negeri. Tahun lalu taruna-taruni tingkat III berlayar ke Australia dan Selandia Baru. Tahun ini AAL mengagendakan berlayar ke Spanyol.

Waktu yang dibutuhkan untuk berlayar 3–4 bulan. Menurut Wuspo, pesiar dan berlayar itu menjadi ajang taruna-taruni dalam bersosialisasi dengan masyarakat luar. Mereka juga dapat mengenalkan budaya Indonesia saat berlayar ke negara lain. Pengenalan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu tradisinya adalah menampilkan tarian Indonesia.

Setelah itu, mereka memiliki kesempatan besar untuk sharing ilmu dengan orang sipil. Meski dengan gagah memakai seragam lengkap, mereka tetap dituntut selalu ramah kepada masyarakat sipil di mana pun dan kapan pun. (bri/c19/jan/sep/JPG)
sumber:jawapos.com
Share on Google Plus

About Enter Bogor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment