Dyah Ayu Rani yang Tak Bisa Tidur Telentang karena Tumor Tulang Belakang

Dyah Ayu Rani yang Tak Bisa Tidur Telentang karena Tumor Tulang Belakang


Sejak akhir tahun lalu, Dyah Ayu Rani tak bisa menikmati mewahnya tidur. Saban malam dia hanya berdiri karena rasa sakit yang mendera punggungnya.

FERLYNDA PUTRI

DYAH Ayu Rani masih harus menginap di RS PHC Surabaya pascaoperasi tulang belakang, 26 Januari lalu. Jalannya masih harus pelan-pelan. Begitu pula ketika harus tidur. Di punggungnya masih ada perban yang menutupi luka bekas operasi.

’’Ini jauh lebih mending daripada sebelum operasi,’’ kata Dyah, Selasa (1/2). Ibu dua putra itu ingat betul penderitaan yang dialaminya sebelum operasi. Kenikmatan tidurnya direnggut rasa sakit yang luar biasa. Sakit yang menjalari punggung hingga kakinya.

Dyah pun tak bisa menggambarkan rasa sakit itu. Luar biasa, katanya. Linu. Nyeri. Yang bisa dilakukannya hanya berdiri sembari meremas orang di sebelahnya.

Saat Dyah akan duduk, sakit itu juga langsung datang. ’’Saya bisa membutuhkan waktu seperempat jam untuk bisa benar-benar duduk,’’ ucapnya.

Dari posisi berdiri, Dyah harus pelan-pelan duduk. Bagian panggulnya akan nyeri. Kemudian, rasa nyeri itu menjalar hingga kaki. Akhirnya, dia harus berdiri dan berusaha duduk lagi.

’’Sakitnya itu mulai datang kalau malam. Sehabis magrib,’’ tuturnya. Itu membuatnya tak bisa tidur. Untuk memejamkan mata saja, dia tidak bisa. Untuk duduk sakit. Apalagi untuk tidur telentang.

Painkiller atau obat pereda nyeri yang seharusnya diminum dua kali dalam sehari terpaksa ditenggak empat kali dalam sehari. Itu pun tidak mempan. Saban malam, punggungnya harus digosok balsam panas. Setiap malam dia menghabiskan satu balsam. Kakinya harus di-hairdryer. Bukan untuk mengeringkan rambut di kaki, tentu. Tapi untuk memberikan efek hangat.

Mungkin orang biasa akan girap-girap kepanasan kalau diperlakukan seperti itu. Namun, Dyah justru tidak merasakan apa-apa. ’’Sepertinya itu panasnya tidak sampai tulang. Biasa aja,’’ ceritanya.

Penderitaan tersebut dirasakannya sejak Desember hingga 25 Januari lalu. Dan tentu, Dyah tidak sendirian. ’’Saya sering ngajak orang rumah begadang. Mama sama Papa yang paling sering menemani,’’ ujar perempuan asli Mojokerto itu.

Nah, saat pagi, Dyah baru bersiap-siap ’’tidur’’. Bukan di kasur. Dyah sekadar duduk di sofa dengan sandaran bantal. Kakinya juga harus diganjal kursi pendek sehingga ujung kaki dan pantatnya sejajar. Kalau duduk dengan posisi orang pada umumnya, rasa sakit itu pasti langsung datang.

Itu pun tidak di kamar, melainkan di ruang tamu. Dyah memerlukan sinar matahari yang masuk dan membasuh tubuhnya. Sebab, kehangatan surya membuat rasa sakit tersebut cukup berkurang. Itulah satu-satunya caranya beristirahat. Kalau malam, bergadang lagi...

Gejala sakit itu sebenarnya dirasakan sejak Agustus 2016 setelah Dyah jatuh dan tertimpa motor. Awalnya dia merasakan nyeri yang menjalar di bagian pantat. ’’Rasanya itu seperti gringgingen (kesemutan, Red). Saya kira itu efek jatuh,’’ ungkapnya. Dyah sempat datang ke tukang pijat. Lumayan. Sakitnya reda.

Tapi, pada Oktober, Dyah sudah tidak bisa duduk di lantai. Untuk berjalan pun, kaki kanannya agak sakit. Perempuan 31 tahun tersebut masih ’’menuduh’’ rasa sakit itu sebagai akibat kecelakaan. Dia pun rutin pijat. ’’Setiap dua minggu saya pijat. Memang sakitnya reda setelah pijat. Namun, kalau capek, pasti kambuh,’’ tutur perempuan kelahiran 3 Oktober tersebut.

Sampai akhirnya Dyah pergi ke dokter spesialis saraf. Dari dokter tersebut, dia disarankan untuk menjalani pemeriksaan dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI). Sayang, Dyah tak mau periksa.

’’Setelah itu, saya datang ke spesialis penyakit dalam dan didiagnosis menderita HNP (herniated nucleus pulposus, Red),’’ jelasnya. Dia pun mencari tahu mengenai penyakit tonjolan pada cakram antar-ruas tulang belakang tersebut. Kebetulan, ada teman kantor yang mengalami penyakit itu.

Dyah lantas mendapatkan obat. Selain itu, dia disarankan untuk berenang. ’’Setelah saya berolahraga, justru sakitnya semakin menjadi,’’ bebernya.

Mobilitasnya mulai terganggu. Rasa sakit semakin menggigit. Dia pun lantas pergi ke fisioterapi. Tujuannya, mendapat terapi. ’’Saya malah ditertawakan karena tidak membawa hasil MRI,’’ ujarnya.

Dia memahami maksud terapis tersebut agar terapi yang diberikan tepat. Jika tidak menggunakan MRI, terapi tidak dapat diberikan dengan tepat. ’’Dokter itulah yang akhirnya menyarankan saya untuk kembali ke spesialis saraf,’’ imbuhnya.

Dyah akhirnya kembali ke dokter spesialis saraf sebelumnya. Dia juga menjalani MRI. ’’Untuk MRI, kan harus telentang. Padahal, saat itu saya sudah tidak bisa tidur telentang,’’ ungkapnya. Untuk menjalani MRI itu, Dyah harus berjuang melawan sakitnya. ’’Sampai susternya itu saya remas,’’ kenangnya.

Berdasar hasil MRI, di tulang punggung Dyah ada tumor. Tumor tersebut terletak di dalam selaput sumsum. Itulah yang menimbulkan rasa sakit. Langkah satu-satunya adalah operasi.

Dokter saraf dr Eny Setyarini SpS menyarankan untuk menghubungi dr Muhammad Fariz SpBS untuk menanyakan masalah operasi. ’’Saya juga mendengar bahwa dokter Fariz itu ahli di tulang belakang,’’ kata Dyah.

Rabu (25/1) Dyah kontrol yang pertama kepada Fariz. Memang, satu-satunya jalan adalah operasi. ’’Saya ditawari untuk operasi besoknya (Kamis, Red) atau Senin. Saya tidak tahan. Jadi, pilih Kamis operasi,’’ ucapnya.

Saat itu Dyah tidak membawa baju ganti. Begitu selesai kontrol, dia langsung ngamar untuk persiapan operasi besok paginya. Untuk baju, dia meminta adiknya mengambilkan baju ganti.

Dokter sempat khawatir akan risiko pascaoperasi. Sebab, dokter harus memutus saraf yang terkena tumor, lalu menyambungnya kembali. Risikonya adalah lumpuh atau ada fungsi tubuh yang menurun.

Kamis sore (26/1), Dyah mulai bisa duduk. Paginya, dia sudah berlatih berjalan. Dia juga bisa merasakan ingin buang air. Itu berarti kondisinya baik-baik saja. Risiko lumpuh pun tak terjadi.

Sebagai dokter, Fariz bersyukur atas kondisi pasiennya pascaoperasi. Dia baru pertama ini menemukan pasien yang mengalami nyeri hebat karena ada masalah di tulang belakang. Tumor di tulang belakang Dyah cukup besar. Diameternya sekitar 2 cm. ’’Sembilan puluh sembilan persen tumor tersebut berjenis jinak,’’ terangnya.

Fariz menjelaskan, selama ini masyarakat sering keliru mengartikan penyakit tulang belakang dengan asam urat atau rematik. Sebab, pasien memang merasakan nyeri. ’’Yang perlu diketahui, kalau ada masalah di tulang belakang, itu tandanya ada sakit yang menjalar,’’ jelasnya.
sumber: jawapos.com
Share on Google Plus

About Enter Bogor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment