Jalur ini menghubungkan Surabaya dan Malang. Ibu kota Jawa Timur dan kota terbesar kedua di Jatim. Tapi, kondisinya, alamak….
PERJALANAN itu dilakukan pada Jumat (20/1). Jawa Pos memulai penelusuran sekitar pukul 08.30. Rutenya ke selatan tanpa melewati tol. Kami harus melewati Jalan Raya Gedangan yang terasa betul padatnya.
Padahal, hari masih pagi. Seharusnya truk dan kendaraan besar tidak boleh melintasi kawasan Gedangan pada pukul 06.00–09.00. Fakta berbicara lain. Mobil kami sudah harus bersanding dengan truk-truk yang menyesaki dua lajur ke arah selatan.
Jalan Rusak di Mana-mana
Jalan Rusak di Mana-mana (Grafis: Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)
Kondisi jalan (fisik aspal) sejatinya relatif oke. Tapi, volume kendaraan sangat padat. Itu yang jadi hambatan. Termasuk adanya satu–dua mobil yang berhenti di bahu jalan yang sebagian berupa tanah.
Karena itu, setiap pagi dan sore kemacetan tak terhindarkan. Itu macet ’’normal’’. Belum kalau ada masalah. Misalnya kecelakaan atau truk yang mogok. Atau truk yang tidak mogok tapi as rodanya patah, hehe…. Sudah barang tentu jalur utama Surabaya–Sidoarjo itu akan mampet pet. Mulai Bundaran Waru hingga jalan layang Jenggolo bisa disesaki kendaraan yang berhenti.
Kepadatan arus kendaraan mulai berkurang setelah melewati persimpangan Jalan Lingkar Timur, Sidoarjo. Banyak kendaraan berat yang mengambil arah Lingkar Timur. Kecuali beberapa kendaraan dengan tujuan masih sekitar Buduran. Misalnya kawasan PT Japfa Comfeed dan beberapa perusahaan di sekitar Buduran. Namun, jumlah kendaraan besar yang melewati jalur tersebut tidak banyak. Lalu lintas didominasi roda dua dan kendaraan pribadi roda empat.
Pagi itu lalu lintas terasa lengang saat memasuki jalan layang Jenggolo. Mungkin karena rush hour (jam masuk kerja) sudah terlewati. Biasanya, sepanjang jalan antara jalan layang Jenggolo dan alun-alun tersebut sering bermasalah. Utamanya saat jam kerja. Ada gang yang menjadi akses pekerja salah satu perusahaan makanan ringan. Pada pagi dan sore, ribuan pekerja keluar dari jalan tersebut. Lalu lintas dari jalan layang Jenggolo pun terhambat. Ditambah lagi, banyak angkutan umum jurusan Porong–Sidoarjo–Joyoboyo yang ngetem di sekitar gang tersebut.
Memasuki kawasan kota, lalu lintas masih normal. Lajur cukup lebar. Ada tiga lajur di jalan tersebut. Namun, kendala tetap ada, yakni kendaraan yang parkir di bahu jalan. Bahkan, di Jalan Gadjah Mada, lalu lintas sangat padat. Sisi kiri jalur Sidoarjo–Malang dipenuhi pedagang. Selain itu, banyak kendaraan dan pejalan kaki yang menyeberang. Pengendara harus mengurangi kecepatan untuk mengantisipasi tabrakan di kawasan tersebut.
Namun, ”kenyamanan” –yang sejatinya juga tidak terlampau nyaman-nyaman amat– itu segera berakhir begitu menjelang luar kota Sidoarjo. Di Candi, aspal tidak rata. Gelombang-gelombang kecil membuat kendaraan terangguk-angguk. Terutama di bagian tengah jalan dekat median. Di beberapa tempat, aspal menumpuk dan menggumpal, membuat kendaraan tersentak-sentak. Karena itu, pilihannya adalah melambatkan laju kendaraan atau mengambil lajur sedikit ke kiri.
Juga, ”pintu gerbang” ketidaknyamanan itu berada di lintasan kereta api Tanggulangin. Hari itu genangan air yang sangat besar terdapat di tepi jalan. Ada water barrier (kotak plastik oranye untuk pembatas jalan) untuk memecah arus.
Di lokasi itu, juga ada bekas peninggian aspal. Karena itu, jarak permukaan aspal dengan median tidak lebih dari 10 sentimeter. Bahkan, di kawasan Jalan Raya Porong, ada median jalan dengan ketinggian yang ampir sama dengan aspal. Meleng sedikit, pengendara bisa terlontar ke jalur berlawanan.
Peninggian jalan tersebut dilakukan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII pada 2010. Itu dilakukan karena di kawasan tersebut sering terjadi penurunan permukaan tanah. Saat hujan deras, jalur itu juga sering banjir. Kendaraan tidak bisa lewat.
Memang ada drainase di tepi jalan tersebut, tapi tidak berfungsi maksimal. BBPJN VIII bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyiagakan pompa di sepanjang jalan itu.
Kondisi paling parah terjadi pada Februari dan Juni 2016. Banjir setinggi lutut orang dewasa. Banyak kendaraan yang terjebak di sepanjang jalan tersebut. Bukan hanya lalu lintas jalan raya yang terganggu. Jalur kereta turut menjadi korban.
Kala itu PT KAI (Persero) Daop 8 harus membatalkan perjalanan kereta Surabaya–Malang dan Surabaya–Banyuwangi. Penumpang dari Stasiun Gubeng dievakuasi dengan bus melalui darat menuju Stasiun Bangil. Perjalanan kereta selanjutnya melalui stasiun tersebut. Pola evakuasi itu juga berlaku untuk jalur sebaliknya.
Banjir yang sering terjadi mengakibatkan ketahanan permukaan aspal di sepanjang jalan itu lemah. Kondisi itu diperparah dengan kendaraan berat yang keluar dari tol. Banyak ruas yang berlubang dan bergelombang.
Pengendara akan lebih aman jika melewati lajur kiri. Tapi tetap harus berhati-hati. Utamanya di kawasan Siring dan sekitarnya. Banyak kendaraan pengunjung wisata lumpur yang keluar masuk lokasi tersebut.
Kendaraan yang ambil jalur kanan harus ekstrahati-hati. Selain permukaan jalan tidak rata, banyak roda dua atau mobil yang mengambil arah putar balik. Akibatnya, kendaraan di belakangnya harus mengambil jalur ke kiri.
***
Jembatan Porong seakan menjadi penanda ’’etape kedua jalan buruk’’. Dalam perjalanan ke selatan, lubang-lubang aspal di awal jembatan langsung menyambut pengendara. Lubang itu begitu besar, sampai-sampai truk yang beroda besar pun harus melibasnya dengan sangat perlahan. Bikin macet.
Makin ke selatan, permukaan jalan kian mengenaskan. Memang kendaraan terbilang jarang. Banyak kendaraan pribadi, juga bus, yang melewati arteri baru Porong, lalu masuk ke tol Gempol–Pandaan. Rata-rata yang melintasi jalur Porong–Kejapanan itu adalah kendaraan berat atau Bison, kendaraan umum jalur Surabaya–Malang.
Yang membuat jalur itu tak layak bukan hanya kondisi aspal yang mengelupas dan berlubang, tapi juga tak adanya bahu jalan. Setelah aspal, yang ada hanyalah tanah yang kerap dilintasi angkot yang tidak sabar dalam kemacetan. Itu terjadi hingga bundaran Apolo di selatan Gempol. Setelah bundaran Apolo, kondisi permukaan aspal tidak semakin baik. Ruas jalan terdiri atas dua lajur.
Di beberapa ruas, permukaan jalan dan median hampir rata. Itu terjadi karena aspal naik hingga median jalan. Sepanjang jalan tersebut, tidak ada drainase yang dipersiapkan. Bisa jadi, pemerintah mengandalkan sungai kecil di kiri jalan. Tetapi, fungsi sungai tersebut tidak maksimal. Sebab, tidak terlihat air yang mengalir ke sungai tersebut. Air lebih sering menggenang di permukaan jalan itu.
Ahmad Rizal, salah seorang pengemudi dari Pandaan, mengatakan, kondisi jalan yang bergelombang dan berlubang tersebut sudah lama. Dia memerinci, kawasan paling parah berada di Sukorejo. Tepatnya mulai Desa Glagahsari hingga Karangsono. ”Kondisinya parah dan bergelombang,” ujarnya.
Kemudian, di kawasan Purwosari, kerusakan mulai terjadi di Desa Sengonagung, Kelurahan Purwosari, Desa Martopuro, dan Kertosari. Sedangkan kawasan Purwodadi, papar Rizal, secara keseluruhan sudah bagus. ”Perbaikan sering dilakukan di kawasan tersebut,” ucapnya.
Rizal menyatakan, kerusakan itu tidak berpengaruh untuk kendaraan besar. Truk atau minibus tidak begitu merasakannya. Sebaliknya, bagi roda dua dan mobil pribadi, kondisi tersebut sangat membahayakan. Roda dua akan bertarung dengan kendaraan berat. Mobil pun sering kejeglong sehingga pecah ban. ”Peristiwa seperti itu sering terjadi,” ungkapnya.
***
Jawa Pos melewati Masjid Cheng Hoo, Pandaan, sekitar pukul 11.00. Untuk menuju bypass Pandaan, kendaraan harus melambat di perempatan. Bukan karena lampu lalu lintas, melainkan lubang yang sangat besar sebelum traffic light di tengah jalan. Lubang itu juga seakan menjadi penanda bahwa perjalanan berikutnya di bypass Pandaan tidak lebih baik. (Thoriq S. Karim/c11/dos/sep/JPG)
sumber:jawapos.com

0 comments:
Post a Comment