Bebas berkreasi tanpa batas. Itulah konsep yang diusung pada fashion show hasil kolaborasi dari beberapa merek pakaian dan aksesori indie asal Kota Pahlawan. Berkembangnya teknologi dari berbagai aspek kehidupan mencetuskan anggapan bahwa tak perlu mengambil pusing untuk memilah suatu karya.
Gaya urban diwujudkan melalui tampilan yang serbatabrak material. Yakni, lace, denim, kain net tutu, kanvas, dan poliester yang disatukan dalam satu tampilan. Sementara itu, item khas yang ditemukan dalam gaya tersebut adalah sneakers, kaus, vest, dan celana berpotongan longgar dengan desain yang simpel.
”Setiap gaya sah-sah saja dikategorikan sebagai urban style. Namun, kami secara khusus ingin menampilkan gaya anak muda Surabaya sebagai kiblat fashion Jawa Timur,” jelas Creative Director One.Am.Premium Adi Negara.
Sebelas model tampil dengan busana ready-to-wear yang didominasi warna-warna basic dan monokrom. Misalnya, hitam, putih, emas, dan biru dongker. Gaya yang dipamerkan cenderung cocok dikenakan pada acara santai hingga semiformal. Sesuai dengan pakaian yang dikenakan, para model pamer pose-pose swag. Ada yang memainkan kaca mata hitam, duduk santai sambil bersandar, memainkan sneakers, menenteng jaket, dan lain-lain.
Padu padan busana ready-to-wear dilengkapi dengan aksesori besar. Misalnya, penambahan kacamata dengan frame bulat dan tebal. Kacamata yang dikenakan model diproduksi Mollucas, brand yang mengangkat frame kayu sebagai ciri khas. Warna-warna pastel sedikit ditambahkan untuk menampilkan kesan feminin seperti anting tasel dan pom-pom. Tampilan tersebut semakin chic dipadukan dengan tata rambut half-bun.
”Zaman sekarang, style apa pun bisa dikenakan. Asal pede dan sesuai bentuk tubuh,” papar Adi ketika ditemui di Stonehead Coffee, Surabaya Town Square, dalam acara Surabaya Urban Project.
Pria yang memulai bisnis clothing online itu berkolaborasi dengan Flying Feather. Rancangan Adi didominasi cutting lurus dan sedikit boyish. Sementara itu, Flying Feather memiliki desain lebih feminin yang tampak dari bahan lace, rajut, dan katun yang mendominasi.
Tengok saja gaya salah seorang model, Sinta Dina Nabilla. Gadis berpostur tubuh mungil tersebut mengenakan jumpsuit plisket yang dipadukan dengan long-vest. ”Untuk pemilik postur tubuh pendek, sebaiknya pilik rok atau celana dengan panjang maksimal selutut. Kalau di bawah lutut, kaki akan terlihat pendek,” jelasnya. Gaya urban Sinta semakin lengkap dengan permainan aksesori warna-warni dari gelang pom-pom dan anting rantai. (esa/c16/dos/sep/JPG)
sumber:jawapos.com
Gaya urban diwujudkan melalui tampilan yang serbatabrak material. Yakni, lace, denim, kain net tutu, kanvas, dan poliester yang disatukan dalam satu tampilan. Sementara itu, item khas yang ditemukan dalam gaya tersebut adalah sneakers, kaus, vest, dan celana berpotongan longgar dengan desain yang simpel.
”Setiap gaya sah-sah saja dikategorikan sebagai urban style. Namun, kami secara khusus ingin menampilkan gaya anak muda Surabaya sebagai kiblat fashion Jawa Timur,” jelas Creative Director One.Am.Premium Adi Negara.
Sebelas model tampil dengan busana ready-to-wear yang didominasi warna-warna basic dan monokrom. Misalnya, hitam, putih, emas, dan biru dongker. Gaya yang dipamerkan cenderung cocok dikenakan pada acara santai hingga semiformal. Sesuai dengan pakaian yang dikenakan, para model pamer pose-pose swag. Ada yang memainkan kaca mata hitam, duduk santai sambil bersandar, memainkan sneakers, menenteng jaket, dan lain-lain.
Padu padan busana ready-to-wear dilengkapi dengan aksesori besar. Misalnya, penambahan kacamata dengan frame bulat dan tebal. Kacamata yang dikenakan model diproduksi Mollucas, brand yang mengangkat frame kayu sebagai ciri khas. Warna-warna pastel sedikit ditambahkan untuk menampilkan kesan feminin seperti anting tasel dan pom-pom. Tampilan tersebut semakin chic dipadukan dengan tata rambut half-bun.
”Zaman sekarang, style apa pun bisa dikenakan. Asal pede dan sesuai bentuk tubuh,” papar Adi ketika ditemui di Stonehead Coffee, Surabaya Town Square, dalam acara Surabaya Urban Project.
Pria yang memulai bisnis clothing online itu berkolaborasi dengan Flying Feather. Rancangan Adi didominasi cutting lurus dan sedikit boyish. Sementara itu, Flying Feather memiliki desain lebih feminin yang tampak dari bahan lace, rajut, dan katun yang mendominasi.
Tengok saja gaya salah seorang model, Sinta Dina Nabilla. Gadis berpostur tubuh mungil tersebut mengenakan jumpsuit plisket yang dipadukan dengan long-vest. ”Untuk pemilik postur tubuh pendek, sebaiknya pilik rok atau celana dengan panjang maksimal selutut. Kalau di bawah lutut, kaki akan terlihat pendek,” jelasnya. Gaya urban Sinta semakin lengkap dengan permainan aksesori warna-warni dari gelang pom-pom dan anting rantai. (esa/c16/dos/sep/JPG)
sumber:jawapos.com

0 comments:
Post a Comment