CEO Starbucks Howard Schultz memberikan harapan untuk para pengungsi. Dalam surat terbuka yang ditulis untuk para karyawannya Minggu (29/1), dia berjanji bakal mempekerjakan 10 ribu pengungsi di gerai-gerai Starbucks yang ada di seluruh dunia. Tidak secara langsung, namun bertahap selama lima tahun kedepan. Langkah yang diambil oleh Schultz tersebut merupakan bentuk respons terhadap kebijakan imigrasi yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sejak Jumat (27/1) lalu.
''Janji perekrutan (pegawai) ini adalah upaya bersama untuk menyambut dan mencarikan peluang bagi mereka yang melarikan diri dari perang, kekerasan, penganiayaan dan diskriminasi,'' tulis Schultz. Dia menegaskan jika perusahaan tidak akan tinggal diam ketika ketidakpastian terus meningkat akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang baru.
Perusahaan yang kali pertama berdiri di Seattle, Washington, tahun 1971 tersebut memiliki lebih dari 25 ribu gerai di 75 negara. Rencananya pengungsi yang akan diserap sebagai pekerja adalah mereka yang ada di AS lebih dulu. Utamanya mereka yang telah membantu tentara AS di medan perang baik sebagai penerjemah maupun pekerjaan yang lain.
Starbucks juga akan tetap berinvestasi di Meksiko, negara yang akan dibatasi dengan tembok oleh Trump. Schultz bahkan siap membantu partner bisnis maupun pelanggan mereka dan keluarganya di Meksiko yang merasa kesulitan dengan kebijakan baru pemerintah AS. Baik itu terkait pajak yang akan dinaikkan 20 persen hingga masalah keimigrasian. ''Kita semua berkewajiban untuk memastikan para pejabat terpilih mendengar dari kita baik secara individu maupun kolektif. Starbucks telah melakukan bagiannya,'' tulis Schultz. (Fortune/BBC/sha/tia)
''Janji perekrutan (pegawai) ini adalah upaya bersama untuk menyambut dan mencarikan peluang bagi mereka yang melarikan diri dari perang, kekerasan, penganiayaan dan diskriminasi,'' tulis Schultz. Dia menegaskan jika perusahaan tidak akan tinggal diam ketika ketidakpastian terus meningkat akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang baru.
Perusahaan yang kali pertama berdiri di Seattle, Washington, tahun 1971 tersebut memiliki lebih dari 25 ribu gerai di 75 negara. Rencananya pengungsi yang akan diserap sebagai pekerja adalah mereka yang ada di AS lebih dulu. Utamanya mereka yang telah membantu tentara AS di medan perang baik sebagai penerjemah maupun pekerjaan yang lain.
Starbucks juga akan tetap berinvestasi di Meksiko, negara yang akan dibatasi dengan tembok oleh Trump. Schultz bahkan siap membantu partner bisnis maupun pelanggan mereka dan keluarganya di Meksiko yang merasa kesulitan dengan kebijakan baru pemerintah AS. Baik itu terkait pajak yang akan dinaikkan 20 persen hingga masalah keimigrasian. ''Kita semua berkewajiban untuk memastikan para pejabat terpilih mendengar dari kita baik secara individu maupun kolektif. Starbucks telah melakukan bagiannya,'' tulis Schultz. (Fortune/BBC/sha/tia)
sumber:jawapos.com

0 comments:
Post a Comment