jpnn.com, PYONGYANG - Korea Utara akhirnya melepas dua dari sebelas warga negara Malaysia yang sejak awal pekan kemarin dilarang meningalkan wilayah Korut.
”Stella Lim dan Nyanaprakash Muniandy telah tiba dengan selamat di Beijing,” kata PM Malaysia Najib Razak, lewat akun Facebook-nya.
Kabar
baik itu dia tuliskan dalam bahasa Inggris dan bahasa Melayu.
Keberhasilan dua staf Badan Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP)
PBB itu meninggalkan Pyongyang membuat Malaysia yakin bahwa pihaknya bisa bernegosiasi dengan Kim Jong-un.
Dari
Korut, dua staf WFP itu terbang ke Tiongkok untuk transit. Kemarin
mereka tiba di Bandara Internasional Beijing. Dari Negeri Panda, mereka
berdua melanjutkan penerbangan ke Malaysia.
Rencananya, setelah dua staf WFP tersebut tiba di Kuala Lumpur, Najib
langsung mengajak Pyongyang bernegosiasi. Saat ini jajaran pemerintahan
Najib sedang berusaha melobi Korut.
Terkait dengan kepulangan Lim dan Muniandy, Malaysia mengaku tidak terlibat dalam prosesnya. Setelah Korut menyatakan bahwa sebelas warga Malaysia
yang berada di wilayahnya sebagai sandera, Kuala Lumpur membalas dengan
kebijakan yang sama. Karena itu, pemerintahan Najib tidak pernah
mengupayakan kepulangan mereka. Kuala Lumpur hanya minta jaminan
keselamatan dari Korut.
Kabarnya,
Lim dan Muniandy bisa meninggalkan Korut berkat campur tangan PBB. Pihak
imigrasi membiarkan mereka bertolak ke Beijing karena membawa dokumen
perjalanan berstempel PBB. ”Dua staf kami itu adalah pelayan publik
internasional. Mereka tidak mewakili negara asal mereka. Mereka bekerja
untuk WFP, untuk PBB,” terang PBB dalam pernyataan tertulisnya.
Seperti
biasa, tidak ada keterangan apa pun dari Korut soal kepulangan Lim dan
Muniandy. Padahal, jika merujuk pernyataan Pyongyang Selasa (7/3),
sebelas warga Malaysia
yang berada di Korut seharusnya tidak boleh meninggalkan negara
tersebut. Termasuk dua staf WFP tersebut. Kini, faktanya, Korut
membiarkan Lim dan Muniandy pulang ke Malaysia.
”Sekali lagi, kami tidak akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Korut,” kata Najib. Tapi, Malaysia
juga tidak akan mundur dari kebijakan tegas yang sudah diterapkan sejak
awal pekan ini. Pemimpin 63 tahun itu tetap memberlakukan larangan
bepergian bagi warga Korut yang berada di Malaysia. Setidaknya sampai ada jaminan keselamatan dari Pyongyang untuk sembilan warga Malaysia di Korut.
Kemarin Najib juga langsung mengontak salah seorang staf Kedutaan Besar Malaysia di Korut. Setelah Duta Besar Mohamad Nizan Mohamad diusir, perwakilan tertinggi Malaysia di Pyongyang adalah Mohd Nor Azrin Md Zain. ”Dia dan keluarganya serta warga Malaysia lain di Korut berada dalam keadaan baik-baik saja. Mereka sehat dan selamat,” kata Najib setelah menelepon Nor Azrin.
Malaysia
menjalin hubungan diplomatik dengan Korut sejak 1973. Dalam waktu
kurang dari satu bulan, tepatnya setelah kematian pria yang diyakini
sebagai Kim Jong-nam pada 13 Februari lalu, hubungan kedua negara
merenggang. Bahkan, Malaysia dan Korut sudah saling usir duta besar.
Kemarin
PBB mengimbau Najib dan Jong-un segera mencari solusi damai. Jika
perlu, melibatkan pihak ketiga. Meski tidak eksplisit, PBB mengarahkan
kedua negara pada dialog yang dijembatani Tiongkok. Sebab, Malaysia maupun Korut bermitra baik dengan Tiongkok.
Tapi, Najib menolak. ”Malaysia akan menyelesaikan konflik ini secara bilateral. Kami tidak melibatkan Tiongkok,” tandasnya. (afp/reuters/cnn/hep/c11/any/jpnn)
Sumber : Jpnn.com

0 comments:
Post a Comment