jpnn.com -
Setyo Widiantoko, warga Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, ini jago
membuat sadel dari bahan kulit dengan ukiran yang indah. Bahkan,
karyanya diminati modifikator sepeda motor (builder) dari dalam maupun
luar negeri.
FAJRUS SHIDDIQ - Malang
Setyo
Widiantoko terlihat santai saat mengukir sadel dari bahan kulit di
ruang kerjanya, Jalan Perwira 17, RT 06, RW 02, Desa Rembun, Kecamatan
Dampit, Rabu siang lalu (1/3).
Jawa Pos Radar Malang memerhatikan betapa cekatannya tangan pria yang masih single itu.
Dari hasil ukirannya, jadilah sebuah karya sadel ukir dengan ikon motor Harley Davidson.
”Ini
sudah ada yang memesan. Sebenarnya sudah selesai, tapi saya poles
lagi,” katanya mengawali perbincangan sambil menunjukkan sadel ukirnya.
Setyo kemudian berbagi cerita awal mula dirinya berkarya di bidang yang jarang dilakukan banyak orang tersebut.
Sadel berbahan kulit dengan ukiran khas yang dibuatnya itu muncul dari kecintaan Setyo terhadap dunia motor modifikasi.
Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Setyo mengaku memang menyukai seni lukis dan pahat.
Bagi
dia, hasil kerajinan tangan pasti lebih indah daripada karya yang
dibuat menggunakan mesin. Saat itu, dia masih iseng-iseng membuat karya
lukis.
Inspirasinya pun makin berkembang saat Setyo benar-benar terjun di dunia motor modifikasi.
Alumnus
SMP PGRI Rembun, Dampit, itu kemudian membuat ukiran di sadel motornya.
Sekitar 2002 silam, motor buatan Jerman miliknya dia modifikasi agar
tampilannya terlihat nyentrik.
Dia membuat sadel motornya dengan ukiran tengkorak warna kuning cerah.
”Saat kumpul-kumpul, ternyata banyak teman-teman yang suka. Akhirnya meminta saya membuatkan,” imbuh dia.
Alumnus
SMA Islam Gondanglegi tersebut menyatakan, pernyataan dari
teman-temannya itu sebagai modal awal dirinya terjun pada seni yang
digeluti saat ini.
”Ketimbang saya
nganggur, saya buat sadel ukir saja. Kebetulan juga teman-teman banyak
yang minta saya buatkan,” lanjut pria kelahiran 2 Januari 1978 tersebut.
Saat itu, dia masih belum begitu mendalaminya, karena harus mencari bahan dan konsep yang tepat.
Mulailah Setyo mencari-cari informasi di internet untuk mengetahui konsep yang diminati banyak kalangan.
Menurut
dia, pada 2005 silam, awal dirinya dikenal sebagai perajin sadel ukir.
Saat itu perbincangan dari satu teman ke teman lainnya, sehingga nama
Setyo dilirik banyak konsumen.
”Di Malang, setahu saya belum ada yang seperti ini (membuat sadel kulit ukir). Jadi, ini merupakan peluang bagi saya,” ujarnya.
Setyo lalu memanfaatkan peluang tersebut hingga hasil karyanya laku di pasaran internasional.
Dia
menyatakan, sudah ada sekitar 400 hasil karya Setyo yang dikagumi
pencinta motor modifikasi. Apalagi, saat dirinya membuat Batik Tooled
Leather pada 2015.
”Batik itu konsep
saya sendiri. Saya terinspirasi dari banyaknya batik di Malang yang
sudah dikenal secara internasional,” tandasnya.
Malang
yang penuh budaya dan sejarah, patut namanya dibawa mencuat hingga
dikenal dunia internasional. Dengan karyanya, Setyo juga berharap bisa
mengangkat nama Malang.
Memang, kebanyakan, hasil ukirannya masih bergantung kepada minat pemesan. Banyak motif sulit yang harus dia kerjakan.
Seperti membuat ukiran untuk logo Harley Davidson dan motif tengkorak yang rumit.
Sebab, menurutnya, jika salah sedikit saja dalam mengukir, tidak bisa diakali untuk diubah.
”Untuk proses pembuatan ukiran yang rumit butuh sekitar empat hari. Mulai dari pencarian bahan hingga pengeringan,” jelasnya.
Untuk
motif Harley Davidson, dia kerjakan sesuai pemesan asal Australia.
Tidak hanya itu, konsep-konsep lain juga diminati banyak orang asing.
Dia menyebutkan, Malaysia dan Australia merupakan pasar yang sering memesan hasil karyanya.
Selain
itu, Setyo juga sudah menjadi langganan builder (modifikator motor)
nasional, yaitu dari Jakarta, Medan, Surabaya, Bali, dan sejumlah daerah
lainnya.
Apakah ada pemesan dari
kalangan pejabat atau artis yang suka juga motorstyle? Setyo menjawab
ada. Namun, dia tidak bisa membeberkan nama mereka.
Sebab, dalam kode etik di dunia motor,
Setyo tidak bisa memberi merek pada hasil karyanya. Bahkan, untuk nama
pemesan pun dirahasiakan karena jika hasil karyanya sudah di tangan
customers, berarti sudah menjadi milik mereka.
Hanya, hasil karya tersebut tidak bisa dibohongi jika itu karya Setyo.
Pernah suatu hari, dia mengunggah hasil karyanya di Facebook, hasil pesanan builder dari luar negeri.
Setyo lantas diminta menghapusnya karena kode etik pemesanan seharusnya dirahasiakan.
Meskipun saat membuat karya fenomenal Batik Tooled Leather yang menjadi masterpiece-nya yang tergolong paling sulit.
Namun,
para pemesan, kata Setyo, tetap saja menyanjung hasil karyanya. Banyak
yang menganggap ilustrasi dan pencampuran warna yang dia buat itu
berbeda dengan para perajin lain di luar negeri.
Untuk
masalah harga, sebenarnya hasil karyanya relatif murah. Untuk membuat
sadel ukir yang mudah, dia membanderolnya dengan harga sekitar Rp 900
ribu per karya.
Sedangkan untuk pembuatan ukiran yang sulit bisa mencapai Rp 1,5 juta per sadel.
Dalam seminggu, Setyo bisa merampungkan
sekitar 2–3 sadel ukir. Bahkan, untuk motif yang dia anggap mudah, hanya
butuh setengah hari untuk membuatnya.
Dia
tidak menyebut langsung omzet per bulannya. Namun, dari pernyataannya
yang menyebut sepekan bisa hingga 3 sadel ukir yang dia bikin, dengan
harga Rp 1,5 juta per sadel, maka seminggu omzet Rp 4,5 juta. Berarti Rp
18 juta per bulan. Itu hanya dari sadel model ukir yang sulit saja.
Belum termasuk ukiran yang mudah, yang bisa dia selesaikan hanya dalam
waktu setengah hari per biji.
”Saya mengerjakannya sendiri. Santai saja karena ini hobi,” bebernya.
Untuk
bahan, Setyo mencari kulit dengan kualitas ekspor. Setelah dia membuat
sketsa, mulailah mengukir. Proses selanjutnya, dia mencetak dengan pelat
besi.
Lalu dia tempelkan sadel kulit tersebut dan diwarnai. Kemudian hasil tersebut dijahit dengan benang dan dibuat mengilat.
”Saya pakai warna alami dengan bahan kulit kualitas ekspor dari Malang,” tukasnya.
Menurutnya,
salah satu pabrik kulit di Malang sebagai yang terbaik. Kulit sapi dari
pabrik tersebut dinilainya empuk dan mempermudah hasil pengerjaan sadel
ukir.
Karena untuk kualitas kulit
dari luar kota, kata Setyo, terlalu kaku karena menggunakan kulit sapi
lokal. ”Ya jelas kalau kulit yang empuk dari kulit lembu. Ya, Malang
rajanya,” lanjut dia.
Sedangkan untuk pewarnaan, Setyo lebih
memilih pewarna alami dari akar bakau, karat paku, batu putih, dan
kolaborasi dengan vernis.
Setyo
menyatakan, untuk pembuatan sadel ukir memang tidak menemui banyak
kendala. Hanya jika hujan terus-menerus, Setyo kesulitan untuk
pengeringannya. Sedangkan saat cuaca panas berlebih, menurutnya, juga
akan melunturkan hasil pewarnaan.
Pewarna alami dia ciptakan karena susahnya mencari bahan pewarna di Malang.
”Hampir tidak ada yang jual. Akhirnya saya pakai perwarna alami saja,” tutur Setyo.
Saat ini, dia sedang menggarap sadel ukir untuk di-workshop-kan di Jakarta dan Pekanbaru, Riau.
Sudah
empat minggu ini Setyo memilih lembur hingga pagi hari untuk
menyelesaikan hasil karyanya. Yang jelas namanya sudah tak asing bagi
para pencinta motor modifikasi.
”Ada
workshop pembuatan sadel ukir. Saya hanya membuat, mereka nanti yang
mengisi acara. Nama saya jelas tidak tercantum. Saya kan pemain di
belakang layar,” ujarnya lantas tersenyum. (*/c2/lid)
Sumber : Jpnn.com
0 comments:
Post a Comment