Curhat Lee Yong-dae Tentang Indonesia dan Masa Depan
Keberadaan Lee Yong-dae di kompetisi Djarum Superliga Badminton 2017 bulan lalu memberi warna tersendiri. Atlet Korea Selatan yang pensiun dari timnas tahun lalu itu mewakili tim Musica Champions Jawa Tengah.
Saat pria kelahiran 11 September 1988 itu bertanding, suasana riuhnya tak jauh beda dengan konser K-Pop. Para fans tak lelah berteriak memberikannya semangat. Berikut wawancara dengan oppa pemilik 43 titel superseries yang hari itu ditemani sang ibu, Lee Ae-ja.
Ini adalah pertandingan pertama tahun ini setelah pensiun dari timnas. Bagaimana rasanya? Seru banget. Senang rasanya bisa kembali ke dunia bulu tangkis dengan tim baru. Saya mendapat dukungan penuh dari sesama atlet, pelatih, dan staf di klub Musica Champions.
Senangkah bergabung bersama pemain Indonesia? Menyenangkan. Atmosfer di luar maupun dalam lapangan sangat nyaman. Saya dan Kim Sa-rang (tandemnya di ganda pria) tidak merasa sendirian atau terasing. Mereka benar-benar membantu kami beradaptasi. Secara pribadi, saya merasa terhormat sekaligus bangga bisa tergabung bersama banyak pemain muda yang kualitasnya bagus-bagus.
Setelah Djarum Superliga, apakah ada event internasional lain yang akan diikuti? Untuk sementara, enggak. Ini adalah pekan (pertandingan) internasional akhir saya. Setelah Djarum Superliga selesai, saya berfokus pada kompetisi badminton domestik di Korea Selatan dan latihan. Bila hasilnya bagus, saya bakal come back tahun depan sebagai pemain profesional, tidak lagi mewakili timnas Korea Selatan.
Apa perbedaan setelah pensiun dari timnas tahun lalu? Yang jelas, tidak lagi di asrama dan tidak lagi jauh dari orang tua. Selain itu, tidak ada lagi kewajiban bangun pagi, lalu mengikuti jadwal latihan. Kangen juga. Tapi, sampai sekarang, saya masih berlatih kok. Meski pensiun, saya tetap ingin menjadi atlet badminton profesional. Saya mau ikut event dan kompetisi, tapi tidak lagi mewakili Korea Selatan. Menurut saya, hal itu bakal fun juga.
Bertanding di Djarum Superliga selalu ditemani ibu. Apakah itu tidak menjadi beban tersendiri? Tentu saja tidak. Bagi saya dan Sa-rang, melihat orang tua menonton pertandingan itu justru membuat kami semangat. Soalnya, kami jarang bertemu mereka selama berada di training center timnas. Di pertandingan domestik, ayah dan ibu saya selalu datang. Tapi, untuk event internasional, ini yang kedua yang mereka datangi.
Beberapa kali ke Indonesia punya kesan khusus tidak? Saya senang negara ini. Pemandangannya bagus. Makanannya enak-enak. Kalau sedang tidak ada jadwal, saya dan tim jalan-jalan di dekat hotel atau mal. Selain bertanding, saya dan keluarga pernah berlibur ke Bali. Saya juga senang karena selalu disambut baik oleh fans. Padahal, saya kan bakal melawan pemain Indonesia, hahaha. (fam/c7/ayi/tia)
sumber:jawapos.com
Saat pria kelahiran 11 September 1988 itu bertanding, suasana riuhnya tak jauh beda dengan konser K-Pop. Para fans tak lelah berteriak memberikannya semangat. Berikut wawancara dengan oppa pemilik 43 titel superseries yang hari itu ditemani sang ibu, Lee Ae-ja.
Ini adalah pertandingan pertama tahun ini setelah pensiun dari timnas. Bagaimana rasanya? Seru banget. Senang rasanya bisa kembali ke dunia bulu tangkis dengan tim baru. Saya mendapat dukungan penuh dari sesama atlet, pelatih, dan staf di klub Musica Champions.
Senangkah bergabung bersama pemain Indonesia? Menyenangkan. Atmosfer di luar maupun dalam lapangan sangat nyaman. Saya dan Kim Sa-rang (tandemnya di ganda pria) tidak merasa sendirian atau terasing. Mereka benar-benar membantu kami beradaptasi. Secara pribadi, saya merasa terhormat sekaligus bangga bisa tergabung bersama banyak pemain muda yang kualitasnya bagus-bagus.
Setelah Djarum Superliga, apakah ada event internasional lain yang akan diikuti? Untuk sementara, enggak. Ini adalah pekan (pertandingan) internasional akhir saya. Setelah Djarum Superliga selesai, saya berfokus pada kompetisi badminton domestik di Korea Selatan dan latihan. Bila hasilnya bagus, saya bakal come back tahun depan sebagai pemain profesional, tidak lagi mewakili timnas Korea Selatan.
Apa perbedaan setelah pensiun dari timnas tahun lalu? Yang jelas, tidak lagi di asrama dan tidak lagi jauh dari orang tua. Selain itu, tidak ada lagi kewajiban bangun pagi, lalu mengikuti jadwal latihan. Kangen juga. Tapi, sampai sekarang, saya masih berlatih kok. Meski pensiun, saya tetap ingin menjadi atlet badminton profesional. Saya mau ikut event dan kompetisi, tapi tidak lagi mewakili Korea Selatan. Menurut saya, hal itu bakal fun juga.
Bertanding di Djarum Superliga selalu ditemani ibu. Apakah itu tidak menjadi beban tersendiri? Tentu saja tidak. Bagi saya dan Sa-rang, melihat orang tua menonton pertandingan itu justru membuat kami semangat. Soalnya, kami jarang bertemu mereka selama berada di training center timnas. Di pertandingan domestik, ayah dan ibu saya selalu datang. Tapi, untuk event internasional, ini yang kedua yang mereka datangi.
Beberapa kali ke Indonesia punya kesan khusus tidak? Saya senang negara ini. Pemandangannya bagus. Makanannya enak-enak. Kalau sedang tidak ada jadwal, saya dan tim jalan-jalan di dekat hotel atau mal. Selain bertanding, saya dan keluarga pernah berlibur ke Bali. Saya juga senang karena selalu disambut baik oleh fans. Padahal, saya kan bakal melawan pemain Indonesia, hahaha. (fam/c7/ayi/tia)
sumber:jawapos.com

0 comments:
Post a Comment