jpnn.com - Boimin, 54, tega menghabisi Jaini, 70, ibu kandungnya di Dusun Ringinsari, Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jatim.
Peristiwa yang berlangsung di samping rumahnya tersebut terjadi sekitar pukul 06.00.
Jaini tewas bersimbah darah setelah kepalanya dicangkul anak sulungnya itu.
Insiden nahas tersebut kali pertama diketahui Mahtok, 37, yang rumahnya tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).
Saat berada di rumah, dia sempat mendengar teriakan minta tolong dari arah rumah yang didiami Jaini dan Boimin itu.
Mendengar suara tersebut, Mahtok langsung keluar rumah dan menuju kediaman Jaini. Di depan rumah, dia terkejut saat melihat kepala Jaini bersimbah darah.
''Ya Allah, saya langsung bilang Sonny, tetangga saya,'' terang Mahtok dengan suara agak parau.
Sonny datang bersama Suciati -keponakannya- dan Cikrak, ibunya. Bukannya langsung menolong, empat tetangga itu malah takut sakit jiwa Boimin sedang kumat.
Peristiwa yang berlangsung di samping rumahnya tersebut terjadi sekitar pukul 06.00.
Jaini tewas bersimbah darah setelah kepalanya dicangkul anak sulungnya itu.
Insiden nahas tersebut kali pertama diketahui Mahtok, 37, yang rumahnya tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).
Saat berada di rumah, dia sempat mendengar teriakan minta tolong dari arah rumah yang didiami Jaini dan Boimin itu.
Mendengar suara tersebut, Mahtok langsung keluar rumah dan menuju kediaman Jaini. Di depan rumah, dia terkejut saat melihat kepala Jaini bersimbah darah.
''Ya Allah, saya langsung bilang Sonny, tetangga saya,'' terang Mahtok dengan suara agak parau.
Sonny datang bersama Suciati -keponakannya- dan Cikrak, ibunya. Bukannya langsung menolong, empat tetangga itu malah takut sakit jiwa Boimin sedang kumat.
Mahtok pun meminta tolong kepada warga lain yang segera berduyung-duyung datang.
Akhirnya, Boimin bisa dilumpuhkan. Warga mengelabuhi dengan mengajaknya mencari kopi di rumah salah seorang tetangga.
Saat Boimin meninggalkan cangkulnya di TKP, warga langsung menangkap dan mengikatnya agar tidak berontak.
"Saat Boimin pergi, baru saya dan warga mengangkat Mak Jaini ke dalam rumahnya. Namun, saat saya angkat, dia sudah meninggal,'' ujar Mahtok.
Kepala Dusun (Kasun) Ringinsari Suwandi, 43, menambahkan, sejak dua hari lalu, Boimin gampang kumat dan sering terdengar memarahi ibunya.
Pagi itu, sebelum insiden nahas tersebut terjadi, anak dan ibu itu terdengar cekcok di dalam rumah.
Kemudian, Jaini pergi ke samping rumah untuk menyapu halaman. Tiba-tiba Boimin datang menghampiri ibunya dengan membawa cangkul yang diambil dari belakang rumah.
Dia langsung menghantamkan cangkul tersebut tepat di pelipis sebelah kanan Jaini.
Akhirnya, Boimin bisa dilumpuhkan. Warga mengelabuhi dengan mengajaknya mencari kopi di rumah salah seorang tetangga.
Saat Boimin meninggalkan cangkulnya di TKP, warga langsung menangkap dan mengikatnya agar tidak berontak.
"Saat Boimin pergi, baru saya dan warga mengangkat Mak Jaini ke dalam rumahnya. Namun, saat saya angkat, dia sudah meninggal,'' ujar Mahtok.
Kepala Dusun (Kasun) Ringinsari Suwandi, 43, menambahkan, sejak dua hari lalu, Boimin gampang kumat dan sering terdengar memarahi ibunya.
Pagi itu, sebelum insiden nahas tersebut terjadi, anak dan ibu itu terdengar cekcok di dalam rumah.
Kemudian, Jaini pergi ke samping rumah untuk menyapu halaman. Tiba-tiba Boimin datang menghampiri ibunya dengan membawa cangkul yang diambil dari belakang rumah.
Dia langsung menghantamkan cangkul tersebut tepat di pelipis sebelah kanan Jaini.
Sumber : jpnn.com

0 comments:
Post a Comment