Yuk Intip, Rumah Kos Desain Artistik

Yuk Intip, Rumah Kos Desain Artistik

Anggapan bahwa rumah kos tak perlu desain artistik terpatahkan oleh hunian milik Aliatin Mashjud. Fungsi tercapai, keelokan tetap didapat.

---

MEMILIKI rumah kos di kawasan Keputih, Surabaya, Aliatin ingin membangunnya dengan prinsip less budget more benefits. Arsitek Andy Rahman A. ST IAI menuangkannya menjadi rumah kos dengan konsep unfinished.
CLEAN: Ruang berkumpul.

CLEAN: Ruang berkumpul. (Dika Kawengian/Jawa Pos/Jawa Pos.com)

Material batu bata dan semen dibiarkan tanpa cat. Seperti bangunan yang belum jadi. Dengan begitu, Aliatin tak perlu mengeluarkan dana khusus untuk cat dan perawatan di kemudian hari. Hasilnya, dinding bangunan didominasi warna abu-abu dan merah bata alami. ’’Warna-warna natural itu lebih pas untuk kosan cowok,’’ ujar Aliatin.

Untuk menghilangkan kesan kusam, diberilah efek glossy. Seluruh bagian tembok dilapisi solvent based sillicone solution. ’’Coating itu juga mencegah tumbuhnya lumut. Biasanya di batu bata memang mudah tumbuh lumut,’’ jelas Andy.

Menurut direktur CV Andyrahman Architect tersebut, bangunan berkonsep unfinished tak memerlukan maintenance khusus. Pemilik tak perlu repot mengecat ulang ataupun melakukan re-coating. ’’Bahkan, sebenarnya kalau ada lumut tumbuh, bangunan akan tetap bagus,’’ ujarnya.

Lantai kayu dipilih untuk mengimbangi. Nuansa interior rumah kos itu pun terasa vintage. Dengan sedikit sentuhan warna tosca, konsep unfinished itu menjadi segar. ’’Warna tosca ini mencuri perhatian supaya nggak monoton,’’ jelas Andy.

Furnitur mulai meja, kursi, lemari, sampai pintu dibuat dari kayu bekas peti kemas. Kayu itu diseleksi, kemudian dibuat sesuai dengan rancangan Andy. ’’Kami mengeksplorasi material recycle. Barang bekas menjadi bernilai seni,’’ kata Andy.

Satu hal yang mencolok adalah pagar dan dinding yang dibuat berongga atau berpori. Meterinya berasal dari roster beton customized. Selain menjadikan bangunan lebih artsy, dinding dan pagar berpori berfungsi membuat bangunan lebih bisa ’’bernapas’’. Melalui pori-pori pada dinding, ruangan bisa mendapat sirkulasi udara maupun cahaya dengan baik.

Konsep dinding berpori itu, diakui Andy, cocok untuk wilayah dengan iklim tropis. Desain tersebut punya filosofi yang sama dengan gedek atau gebyok. ’’Iklim panas dan lembap butuh sirkulasi udara supaya ruangan nggak pengap dan bau apek,’’ jelas Andy.

Prinsip sirkulasi itu juga diterapkan pada desain kamar. Ruang-ruang yang berimpitan dilengkapi dengan cross ventilation. Udara di dalam kamar dengan rata-rata ukuran 3x2,5 meter itu menjadi lancar dan terasa sejuk.

Dengan lahan seluas 120 meter persegi, terdapat 13 kamar. Enam kamar di lantai 1 dan tujuh kamar di lantai 2. Sedangkan lantai 3 diisi dengan area communal space berbentuk rooftop yang nyaman. Bagian atapnya transparan. ’’Kalau malam, suasananya kayak di kafe,’’ ujar Aliatin.            Communal space dibuat untuk memaksimalkan interaksi penghuni kos. ’’Kami ingin membuat tempat ini senyaman mungkin,’’ ujarnya. (adn/c19/ayi/tia)
sumber: jawapos.com
Share on Google Plus

About Enter Bogor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment