Plt Gubernur DKI Sesumbar Jakarta Gak Banjir

Plt Gubernur DKI Sesumbar Jakarta Gak Banjir

Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)Tingginya curah hujan saat ini membuat Pemprov DKI Jakarta waspada pada ancaman banjir. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta mengaku optimis Ibukota tidak akan terendam banjir lagi. Itu diungkap Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Menurutnya, meski diguyur hujan lebat, Jakarta tidak lagi terancam banjir tinggi.

Soni-panggilan akrabnya menilai, upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta sudah maksimal dalam penanganan banjir. Sehingga, dipastikan terbukti berhasil mengurangi peluang banjir saat debit air tinggi.

"Saya optimis (tak banjir) dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Kita lihat bulan Januari dan Februari, walaupun debit semakin tinggi di Februari," ujar Soni di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (1/2).

Soni menilai, meski masalah banjir dan genangan air belum tuntas 100 persen, risikonya sudah jauh lebih rendah. Soni membandingkan saat ini dengan zaman Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk di kursi DKI-1.

"Saya kira dengan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, zaman Pak Jokowi dan Pak Ahok, saya kira ini bisa mengatasi setidak-tidaknya, walaupun belum 100 persen. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Soni meneruskan, jika risiko banjir ingin ditekan serendah mungkin, program normalisasi sungai yang berefek domino pada merelokasi permukiman area target harus terus berjalan.

"Setiap kali kita lakukan normalisasi sungai, hambatan utama kita memang diikuti protes kalau relokasi dengan penggusuran. Kalau relokasi, kita harus siapkan rusunnya dulu. Jumlah rusun dengan jumlah yang direlokasi tidak memadai sehingga terpaksa lambat prosesnya," tandasnya. (wok/yuz/JPG)
sumber: jawapos.com
Share on Google Plus

About Enter Bogor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment