Problem antrean pasien yang berobat di RSUD dr Soetomo perlahan-lahan diurai. Rencananya, mulai bulan ini rumah sakit milik pemprov itu menjadikan Graha Amerta sebagai pilot project penerapan teknologi informasi (TI). Khususnya mengenai layanan pengobatan.
Rabu (1/2), di salah satu lorong lantai 1 Graha Amerta, terlihat pemandangan berbeda. Ada monitor yang menunjukkan denah rumah sakit. Di sebelahnya terdapat tiga anjungan untuk pendaftaran. Tidak ada antrean yang biasanya cukup padat di sana. ”Monitor tersebut digunakan untuk memantau jumlah kamar dan anjungan itu untuk pendaftaran mandiri,” ujar Kepala Instalasi Graha Amerta Prof Rochmad Romdhoni SpJP. Perangkat tersebut termasuk anyar karena baru bulan ini dioperasikan.
Dia mengatakan bahwa monitor itu digunakan untuk melihat jumlah bed yang tersedia. Bed monitoring tersebut sebenarnya ada sejak September tahun lalu. Namun, pada Januari lalu dilakukan sejumlah perbaikan. ”Dengan adanya bed monitoring, diharapkan ada transparansi kamar,” jelas Romdhoni.
Pasien maupun petugas medis bisa melihat jumlah kamar yang tersedia. Dengan begitu, dugaan memanipulasi jumlah kamar bisa diminimalkan.
Romdhoni menambahkan bahwa bed monitoring tersebut bisa dipantau secara real time. Artinya, monitor itu menggambarkan ketersediaan kamar secara faktual. Monitor tersebut berada di setiap lantai gedung instalasi Graha Amerta. Dengan demikian, pasien sangat mudah memantaunya. ”Kami berusaha agar transparan dalam melayani masyarakat,” kata spesialis jantung dan pembuluh darah tersebut.
Sementara itu, anjungan pendaftaran juga akan mempermudah pasien. Pasien baru cukup menempelkan kartu periksanya. Pasien pun akan mengetahui nomor urutnya. ”Kemudian membayar ke kasir untuk memastikan urutannya,” ujar Romdhoni.
Menurut dia, dengan sistem anjungan tersebut, alur pendaftaran pasien akan lebih ringkas. Pasien tidak perlu menunggu lama. Pasien bisa memperkirakan kapan dirinya akan diperiksa. ”Anjungan tersebut tidak hanya untuk mendaftar, tapi sekaligus memilih dokter yang dituju,” tuturnya.
Pasien bisa mengetahui jam berapa dokter praktik. Menurut Romdhoni, sistem itu juga memberikan informasi kepada dokter tentang jumlah pasien yang akan ditangani.
Wakil Direktur Penunjang Medik dr Hendrian D. Soebagjo SpM(K) mengatakan, jika uji coba di Graha Amerta sukses, sistem tersebut bisa diterapkan di instalasi lain. ”Bulan ini akan dilakukan uji coba pendaftaran online di instalasi rawat jalan (IRJ),” ucap Hendrian. Namun, di IRJ, pasien tidak bisa memilih dokter yang dikehendaki.
Ke depan, sistem tersebut terintegrasi dengan KTP maupun kartu BPJS Kesehatan. Dengan begitu, jika tidak membawa kartu berobat, pasien bisa melakukan registrasi dengan KTP maupun kartu BPJS Kesehatan. (lyn/c7/git/sep/JPG)sumber: jawapos.com
Rabu (1/2), di salah satu lorong lantai 1 Graha Amerta, terlihat pemandangan berbeda. Ada monitor yang menunjukkan denah rumah sakit. Di sebelahnya terdapat tiga anjungan untuk pendaftaran. Tidak ada antrean yang biasanya cukup padat di sana. ”Monitor tersebut digunakan untuk memantau jumlah kamar dan anjungan itu untuk pendaftaran mandiri,” ujar Kepala Instalasi Graha Amerta Prof Rochmad Romdhoni SpJP. Perangkat tersebut termasuk anyar karena baru bulan ini dioperasikan.
Dia mengatakan bahwa monitor itu digunakan untuk melihat jumlah bed yang tersedia. Bed monitoring tersebut sebenarnya ada sejak September tahun lalu. Namun, pada Januari lalu dilakukan sejumlah perbaikan. ”Dengan adanya bed monitoring, diharapkan ada transparansi kamar,” jelas Romdhoni.
Pasien maupun petugas medis bisa melihat jumlah kamar yang tersedia. Dengan begitu, dugaan memanipulasi jumlah kamar bisa diminimalkan.
Romdhoni menambahkan bahwa bed monitoring tersebut bisa dipantau secara real time. Artinya, monitor itu menggambarkan ketersediaan kamar secara faktual. Monitor tersebut berada di setiap lantai gedung instalasi Graha Amerta. Dengan demikian, pasien sangat mudah memantaunya. ”Kami berusaha agar transparan dalam melayani masyarakat,” kata spesialis jantung dan pembuluh darah tersebut.
Sementara itu, anjungan pendaftaran juga akan mempermudah pasien. Pasien baru cukup menempelkan kartu periksanya. Pasien pun akan mengetahui nomor urutnya. ”Kemudian membayar ke kasir untuk memastikan urutannya,” ujar Romdhoni.
Menurut dia, dengan sistem anjungan tersebut, alur pendaftaran pasien akan lebih ringkas. Pasien tidak perlu menunggu lama. Pasien bisa memperkirakan kapan dirinya akan diperiksa. ”Anjungan tersebut tidak hanya untuk mendaftar, tapi sekaligus memilih dokter yang dituju,” tuturnya.
Pasien bisa mengetahui jam berapa dokter praktik. Menurut Romdhoni, sistem itu juga memberikan informasi kepada dokter tentang jumlah pasien yang akan ditangani.
Wakil Direktur Penunjang Medik dr Hendrian D. Soebagjo SpM(K) mengatakan, jika uji coba di Graha Amerta sukses, sistem tersebut bisa diterapkan di instalasi lain. ”Bulan ini akan dilakukan uji coba pendaftaran online di instalasi rawat jalan (IRJ),” ucap Hendrian. Namun, di IRJ, pasien tidak bisa memilih dokter yang dikehendaki.
Ke depan, sistem tersebut terintegrasi dengan KTP maupun kartu BPJS Kesehatan. Dengan begitu, jika tidak membawa kartu berobat, pasien bisa melakukan registrasi dengan KTP maupun kartu BPJS Kesehatan. (lyn/c7/git/sep/JPG)sumber: jawapos.com

0 comments:
Post a Comment